Kamis, 23 November 2023
Keadaan.
Rabu, 07 Juni 2023
Juni dan Patah Hatinya.
Kamis, 8 Juni 2023
Selamat datang Bulan Juni dan patah hatinya. Hujan baru saja turun di Fakultas Pertanian. Masih merintik menghantam genting. Sisa hujan subuh hari. Benar apa kata Sapardi bahwa tidak ada yang lebih tabah dari Hujan Bulan Juni. Tetap dirahasiakan rintik rindunya pada bunga ungu yang hampir layu itu. Diregang rindu pada kehangatan masa lalu.
"Ia mau, apa yang hatinya mau." adalah sebuah kalimat yang harus aku pahami maknanya.
Semalam (Rabu, 7 Juni 2023) aku melihatmu bersamanya duduk bersebalahan. Kalian berbagi tawa. Dari kejauhan aku melihat binar kedua matamu begitu hidup. Kamu masih ingin bersamanya, tapi hatinya untuk orang lain yang menjadikan alasan untuk meninggalkanmu. Kamu berpura-pura sudah baik-baik saja, tapi kedua matamu berbicara. Aku harus merelakanmu dan berpura-pura tidak tahu apa-apa.
***
Rabu, 22 Juni 2022
Sebuah tulisan dari sudut pandang orang ke-3 : Seberapa sering?
"Mei telah berakhir, berganti Hujan Bulan Juni yang semoga membuat ia menjadi lebih bijaksana. Tidak lagi ia sembunyikan rintik rindunya kepada akar pohon yang berbunga itu. Telah ia utarakan lewat pesan singkat yang ia tulis pada percakapan dini hari bersamamu, 'Maaf aku menghubungimu malam-malam, karena ada perasaan rindu yang tiba-tiba menikam.' atau lewat pesan singkat yang lain, 'Rindu aku ke kau, tapi apa boleh aku berkata demikian?' Tentu saja, belum pernah mendapat jawaban. Apalagi mempunyai perasaan yang sama? Iya, untuk kesekian kalinya, sebuah kisah harus berakhir lagi tanpa pernah menjadi makna. Sepertinya, kisah ini tidak akan berakhir menjadi kita. Maka, ia akan mengingatmu, sebagai seseorang yang membuat ia sedikit lebih bijaksana. Semoga hal-hal baik segera tiba pada tangan yang tepat. Ia pamit undur diri. Menikmati kekalahan."
Kamis, 01 Juni 2023
Halo!
Hai, udah lama banget ngga nulis di sini, hehe.
Apa kabar semuanya?
Oiya, sekarang udah berubah, nggak lagi pakai kata "Gue" sekarang di setiap tulisan udah pakai "Aku" jadi, harap maklum ya.
Mau cerita, sekarang lagi memasuki semester sebelas. Pengen cepet lulus!:(
Tapi sekalian pengen meluncurkan buku, judulnya "Seluruh Dunia."
Baru selesai sampai BAB 6 sih. Tapi semoga bisa beres. Rencananya bakal ada 10 BAB. Masih 4 BAB lagi. Kalau menurutku, ceritanya menarik. Buku ini ditulis sewaktu covid, sewaktu memasuki semester 4. Sewaktu lagi suka sama seseorang. Bukunya bercerita bagaimana jika kami waktu itu dekat. Ya, fiksi. Tapi untuk latar waktu dan tempat menyesuaikan dengan keadaan Jatinangor saat itu.
Semoga harapan ini bisa terwujud! Aamiin. Doakan semoga penelitian juga lancar ya!
Have a nice day!
Selasa, 11 Juni 2019
Jumat, 06 April 2018
#TatangSutarma - (Habis Galau Terbitlah Move On)
Enggak selalu di kasur palembang, Boy juga biasanya tiduran manja di sofa buluk warna cokelat dekat lemari. “Nanti Sabtu, kalian bakal datang reuni?”
“Gue pasti datang, pengin ketemu Andin. Sekarang udah secantik apa, ya?” mukanya berubah mesem-mesem najis,
“Emang belum pernah ketemu lagi?”
“Belum, gak pernah malah.”
“Lihat fotonya di medsos, gitu?”
“Dia enggak pernah pasang foto. Takut zina mata buat orang lain katanya.” Mendengar itu, gue jadi pengin tobat.
“Kalau lo, gimana, Di?”
“Masih bingung, bakal datang atau enggak.” Jawab dia sambil berbaring, menerawang langit-langit kamar, “Masih ada perasaan yang harus gue sampaikan, sih..”
“Perasaan buat Syahna?” gue sebut nama cewek yang terakhir kali Didi coba raih,
“Bukan Syahna. Nama dia ada di kotak rahasia.”
Di rumah Didi terdapat loker untuk satu orang dengan ukuran 30cm x 30cm yang disatukan. Panjang total 90cm, dan tinggi 30cm. Biasanya kami menyimpan rahasia kecil masing-masing di loker itu. Kami biasa menyebutnya, Kotak Rahasia.
Di atas loker itu ada mainan action-figure milik kami bertiga. Gue punya The Flash, Didi punya Batman, Boy punya Green Arrow dan Super-Girl. Boy punya dua, katanya kasihan kalau super hero kesayangan dia berdiri sendirian di atas Kotak Rahasia.
Ayahnya Boy yang membuat kotak rahasia sewaktu kami pertama kali berteman sejak kelas tiga SMP. Tahun itu menyenangkan, untuk pertama kalinya gue bisa punya teman yang senasib-sepenanggungan, menjadi anak-anak yang tidak populer.
Berteman dengan mereka adalah sebuah pemberian yang berharga untuk gue. Banyak kejadian yang kami lewati satu tahun terakhir di SMP. Gue ingat, dulu Boy satu-satunya dari kami yang pernah punya pacar. Tapi hanya berlangsung selama empat jam, baru nembak jam istirahat sekolah, pulang sekolah sudah putus.
Nama panjangnya Dimas Priyadi. Sewaktu SMP atau SMA, Didi bisa aja jadi anak terkenal, tapi dia lebih memilih berteman dengan kami. Sewaktu SMP beberapa cewek suka sama Didi. Tapi gue punya satu rahasia: Suatu hari setelah tes berenang Didi pernah, pulang tidak pakai celana dalam. Entah bagaimana rasanya menggantung sepanjang perjalanan pulang, mengayun tertiup angin.
Yang gue ingat, di dalam loker gue hanya ada beberapa puisi cemen yang gue tulis, dan bunga mawar mati kering yang masih gue simpan sejak SMP. Tadinya buat gebetan gue pas SMP, tapi sampai hari perpisahan tiba, gue masih tidak berani menyampaikannya. Gue hanya hanya bisa menyimpannya. Dan sepertinya, enggak akan pernah tersampaikan.
Entah rahasia apa yang ada di loker Dimas Priyadi dan Entis Sutisna.
Rencananya, kami akan membuka kotak rahasia itu ketika umur kami tujuh puluh tahun nanti. Dulu gue yakin banget kalau bisa hidup sampai umur tujuh puluh tahun. Tapi setelah beranjak dewasa, gue tiba-tiba enggak yakin. Soalnya saat nge-kost, gue kebanyakan makan mie instan. Sepertinya, ketika umur enampuluh tahunan, gue akan terserang penyakit panu.
“Kalau lo, gimana Tam?” pertanyaan kampret itu muncul dari mulut Didi,
“Kayaknya enggak bakal datang.”
“Kenapa?”
“Gakpapa.” Gue menatap loker, dan teringat sesuatu. Ada satu rahasia lagi yang tersimpan di loker gue. Ada beberapa pucuk surat cinta buat Didi, bukan dari gue. Surat itu... dari seseorang.
***
Besoknya, ketika di sekolah, gue berharap Dara akan menyapa gue seperti kemarin, lalu kami berdua ngobrol lagi, ternyata dia tidak menggubris gue sama sekali. Gue hanya bisa diam-diam memerhatikan dia yang mulai akrab dengan teman cewek satu kelas yang waktu itu sedang berkerumun.
Gue akhirnya tahu kenapa seminggu kemarin enggak pernah lihat Dara. Selain karena gue enggak hadir sewaktu awal masuk sekolah karena hadir di pemakaman orang tua Karin, menurut informasi yang gue dapat, selama satu minggu kemarin, pas istirahat, Dara lebih sering main ke kelas X MIPA 4 ketemu Mia, teman satu SMP-nya. Masih adaptasi.
Enggak lama, bel istrahat pertama bunyi, Dara pamit pergi dari kerumunan, lalu keluar kelas. Kayaknya mau ke kelas sebelah buat ketemu Mia.
‘Kantin, yuk?’ ajak Boy, ‘Bakso..’
‘Ayo..’ jawab gue,
‘Mau solat Duha, kalian duluan, nanti gue nyusul.’
Gue dan Boy menuju kantin. Ketika sampai di sana gue langsung duduk di bangku kantin, Boy menuju tukang bakso, untuk memesan tiga mangkuk bakso. Tebakan gue benar, gue lihat Dara memesan siomay sementara Mia lagi beli kerupuk di bibi kantin.
Kalau gue perhatikan, Dara ternyata lucu juga. Rambutnya sepundak lebih beberapa senti, digerai, dengan warna hitam alami. Senyumnya sejuk, gue merasa duduk di bawah AC. Matanya bagus, mungkin karena sering makan wortel yang panjangnya dua belas senti.
‘Ngelihat apaan?’ Tanya Boy, gue menggeleng cepat, ‘Penuh, kita makan nasi kuning aja. Gimana?’
‘Siomay aja, gimana?’ kata seseorang dari arah belakang,
‘Boleh tuh, Didi yang pesen.’ Kata Boy,
‘Siap!’ Didi langsung menuju gerobak siomay. Gue baru kepikiran beberapa menit kemudian, seharusnya gue saja yang pesan siomay, siapa tahu gue bisa ngobrol sama Dara. Ketika gue mau menyusul, Didi sudah pegang pesanan dan kembali melangkah ke arah kami.
Didi kembali, dengan dua piring siomay pesanan gue dan Boy di tangannya. Didi lebih suka makan siomay dibungkus pakai plastik. Gue tahu, itu adalah cara Didi supaya enggak ada orang yang minta, khususnya Boy.
Ketik Dara dan Mia beranjak dari tempat duduk mereka, gue dan Didi masih makan siomay. Siomay Boy sudah habis, siomay gue tinggal setengah porsi, tiba-tiba bel masuk berbunyi. Dengan otomatis, Boy langsung bicara dengan semangat dan lantang, sambil menyambar piring siomay gue, ‘Relawan!’
Padahal, gue enggak minta bantuan sama sekali. Sedikit gak rela, gue hanya pasrah melihat Boy lahap memakan siomay yang tersisa. Siomay di piring gue habis, dengan perut gue yang belum kenyang, kami bertiga bayar lalu buru-buru kembali ke kelas karena ada pelajaran fisika. Menurut cerita yang beredar: Kalau kita terlambat masuk, urusannya bisa kacau. Nilai ulangan fisika dari bab yang sedang kami pelajari langsung dapat nilai nol tanpa susah payah.
Kami sampai di kelas sebelum Pak Yadi. Ketika Pak Yadi datang, suasana kelas berubah tegang. Ketika mata gue tanpa sengaja melihat Dara yang berjarak dua bangku di depan gue. Entah kenapa, gue merasa sedikit lebih tenang. Enggak khawatir dengan apa yang akan terjadi nanti atau yang akan datang kemudian.
‘Selamat pagi menjelang siang semuanya.’
‘Pagi, menjelang, siang, Pak..’
‘Kok pada tegang?’ tanya Pak Yadi, ‘Santai-santai..’ tangannya kayak orang mau menyeberang, minta mobil di depannya memperlambat laju mobil,
Pak Yadi hanya membawa buku fisika dan buku catatan nilai. Sepatunya seperti jarang disemir, tapi masih terlihat bagus, gagah kalau dipakai beliau. Bajunya rapi. Wajahnya ramah, terlihat seperti remaja umur empat puluh tahunan. Penampilannya sederhana, kayak orang yang belum kerja, tapi ternyata guru fisika.
‘Bab pertama yang akan kita pelajari adalah vektor.’
Pak Yadi mulai menulis coretan-coretan di papan tulis kemudian menjelaskan. Gue memerhatikan. Cara menjelaskannya seperti bercerita ringan. Sekitar empat puluh menit beliau menjelaskan, akhirnya beliau duduk. Gue sedikit mengerti apa yang dijelaskan beliau.
‘Ada yang ingin ditanyakan?’ Satu kelas tidak ada yang menjawab, gue masih menulis. Ada hening yang lumayan panjang. ‘Baik. Pertemuan hari ini selesai. Kapan lagi ada pertemuan?’
‘Hari Sabtu, pak.’ Jawab Sandi, Ketua Kelas,
‘Baiklah, kalian kerjakan soal-soal LKS. Kalau ada yang tidak mengerti, Hari Sabtu tanyakan. Minggu depan ulangan.’ Pak Yadi melengos keluar ruangan,
‘Belum ngerti apa-apa!’ Kata Boy sambil menoleh ke belakang-ke bangku gue, dengan suara seperti orang yang frustasi
‘Ah, bercanda, deh kayaknya.’ kata Heru,
‘Dia serius. Kata kakak aku yang lulusan sini, awalnya emang kelihatan santai. Eh, tiba-tiba ulangan. Dan parahnya lagi, yang gak lulus, gak ada perbaikan.’ Kata Tasya, seorang cewek berkacamata,
‘Oke teman-teman, jangan panik. Kita siap-siap. Ulangan atau enggak, kita lihat minggu depan.’ Kata Dara mencoba menenangkan.
Sisa jam pelajaran hari itu gue, Didi, dan Boy berdiskusi tentang bab vektor posisi. Meski diskusi kami jadinya malah seperti ini: ‘Tadi cross-product, gimana caranya?’ tanya Didi,
‘Nyatet, tapi gak ngerti.’ Jawab gue,
‘Gue juga. Yaudah, kita ke kantin aja, yuk? Siapa tau, kalau udah kenyang, kita jadi ngerti.’
‘Mana bisa, Entis?!’ kata gue,
‘Bisa, nanti kita tanya ke bibi kantin. Siapa tau pinter.’
‘Sebentar lagi, kan, waktu Zuhur.’ Kata Didi,
‘Dariapada pas solat enggak konsentrasi. Kalau lapar, gue suka iseng melorotin celana orang pas lagi rukuk.’ Kata Boy memperkuat argumen,
‘Lapar, iseng. Kenyang, bego gitu?’ tanya gue,
‘Ah, kata siapa? Kalau kenyang, gue bisa bangun rumah tangga.’ Jawab Boy,
‘TERSERAH!’
Hari Sabtu, jam pelajaran pertama Pak Yadi enggak masuk. Gue mengerti, Pak Yadi kasih kesempatan ke anak-anak buat mengerjakan soal-soal di Lembar Kerja Siswa. Tapi, kebanyakan dari anak-anak malah ngobrol dan main-main. Gue hanya lihat soal sebentar, cari penyelesaian, ketemu jalan buntu, lalu tutup buku.
Menjelang jam pertama berakhir, Pak Yadi masuk sambil membawa tas jinjing warna cokelat, membuat kelas hening mendadak. Dengan pembawaannya yang santai, beliau bilang, ‘Ada yang ingin ditanyakan?’
‘Pak, saya kurang paham nomor sebelas.’ tanya Dara,
‘Oh, nomor sebelas itu salah soal. Tidak usah dikerjakan. Ada lagi?’
Anak kelas diam, Pak Yadi melihat jam tangannya, bibirnya bergerak seolah menghitung. Karena tidak banyak yang bertanya, Pak Yadi membuka mulut. ‘Baik, saya kira semuanya sudah paham. Rapikan bukunya, di atas meja hanya ada alat tulis. Hari ini ulangan.’
‘Tapi pak, katanya minggu depan?! Dan waktu tinggal 50 menit lagi, Pak..’
‘Yang kita rencanakan dapat berubah sewaktu-waktu. Lagipula, hanya delapan soal, tidak banyak. Kalian pasti bisa.’
Hari itu Pak Yadi langsung membuka tas, kemudian membagikan soal dengan cara kertas terbalik, tidak boleh ada yang membuka kertas duluan. Setelah Pak Yadi mempersilakan, gue lihat, hanya ada delapan soal.
Gue masih belum mengerti sepenuhnya. Setelah empat puluh menit berlalu, Pak Yadi menghentikan ulangan. Pagi itu, gue hanya bisa menjawab lima soal. Ulangan langsung diperiksa dengan teman sebangku. Dan hasilnya, hanya tiga jawaban gue yang benar.
Pagi itu, Dara mendapat nilai tertinggi, dengan menjawab enam soal, dan betul semua. Ada lima orang lagi yang lulus, mereka semua hanya menjawab betul lima soal. Gue mendengus pasrah, langkah pertama gue di ulangan fisika, gagal total.
Hari Sabtu itu, sampai hari menjelang siang, gue merasa kurang bersemangat buat sekolah, suasana hati gue kacau. Setelah solat Dzuhur, tiba-tiba gue jadi ragu buat masuk jurusan teknik sipil yang gue idamkan.
‘Kayaknya cita-cita gue masuk teknik sipil gak bakal terwujud, deh. Fisika gue jelek.’
‘Jangan nyerah. Semangat kita harus kayak besi, ditempa palu enggak akan pecah, malah makin terbentuk. Berdoa juga, supaya Allah bantu kita.’
Mendengar itu gue kembali semangat, ‘Makasih, Di.’
Gue, Didi, dan Boy keluar mesjid kembali menuju kelas. Saat melewati mading sekolah, banyak anak-anak yang berkumpul. Dara terlihat senang berdiri di sana, ekspresi wajahnya kayak muka Rossi yang berdiri di podium pertama setelah nikung Lorenzo diputaran terakhir.
‘Itu di mading ada apa ya, rame-rame?’ tanya gue,
‘Bentar gue tanya dulu,’ Boy menghentikan orang yang datang dari arah mading. ‘Eh bro, di mading ada apa, kok rame?’ tanya Boy sok kenal,
‘Pengumuman calon pengurus OSIS.’
‘Oooh, makasih, ya..’ kata Boy,
Kami bertiga menuju mading. Mencari nama masing-masing. Gue tersenyum menemukan nama gue menjadi salah satu calon pengurus OSIS. Di bagian bawah kertas pengumuman itu tertulis catatan kecil: “Setelah pulang sekolah, harap berkumpul di depan ruang OSIS.”
Didi dan Boy melangkah gontai, tidak bersemangat. Mereka tidak lolos seleksi wawancara. Gue juga sedih mendengarnya, kalau seperti ini, gue lebih baik tidak menjadi pengurus OSIS. Tapi, mereka berdua malah memberi semangat, Boy bilang, ‘Harus lanjut, Tam. Meski tanpa kami berdua. Kalau enggak lanjut, nanti siapa yang bakal bilang kalau ada razia hedset?’
Setelah pulang sekolah. Didi dan Boy menunggu gue di kelas. Setiap Hari Sabtu kami selalu pulang bareng untuk menginap di rumah Didi.
Ada sekitar empat puluh orang yang berkumpul di depan ruang OSIS. Dara juga hadir siang itu. Ada keinginan buat menyapa dia, tapi gue takut disangka sok kenal. Gue duduk di bawah pohon depan ruang OSIS. Ada tempat duduk terbuat dari semen yang melingkari pohon. Beberapa menit kemudian, salah satu teteh pengurus OSIS datang memberi arahan kepada kami untuk berkumpul ke ruangan kelas X IPS 1, yang jaraknya tidak jauh dari ruang OSIS.
Satu per satu, kami masuk ruangan, gue langsung memilih tempat duduk di dekat jendela. Gue paling suka duduk di dekat jendela. Kalau bosan, gue bisa lihat ke luar jendela, kalau iseng gue bisa keluar lewat jendela atau pecahkan kaca. Namanya juga iseng.
Proyektor dan laptop sudah menyala, terhubung ke kabel VGA. Di papan tulis terlihat proyeksi dari laptop. Ada satu orang kakak pengurus OSIS memaparkan program kerja OSIS di sekolah. Setelah selesai, Kak Rama masuk ke kelas. Lalu bilang, ‘Minta perhatian!’
‘Siap!’ jawab kami yang duduk,
‘Hari Sabtu yang akan datang, kalian harus mengikuti Latihan Kepemimpinan Siswa, sekaligus Pelantikan calon pengurus OSIS periode yang baru. Dan ada beberapa barang yang harus kalian persiapkan.’
Kak Rizki menyebutkan barang satu per satu. Kami semua mengambil buku dan alat tulis, mencatat barang yang harus dibawa untuk Hari Sabtu. Sama kayak MOS, nama barangnya disamarkan, kami harus menebak.
‘Kak, izin bertanya?’ suara itu berasal dari barisan pojok seberang, Kak Rama memersilakan, ‘Kalau saya tidak bisa ikut, karena ada keperluan keluarga?’ tanya Adit sore itu,
‘Otomatis, dianggap mengundurkan diri.’
‘Kalau sakit, kak?’
‘Kamu sakitnya pakai rencana?’ tanya Kak Rama,
‘Nggak, maksudnya, KALAU tiba-tiba sakit, kak.’
‘Sama. Otomatis, mengundurkan diri.’ beberapa anak terlihat meragu, Kak Rama tersenyum, ‘Sederhananya gini, kalau kalian benar-benar serius di OSIS, kalian ikut pelantikan, dan itu membuktikan kalian pantas menjadi pengurus OSIS... Ada yang mau ditanyakan lagi?’
Kalimat itu menutup mulut semua calon pengurus OSIS yang hadir. Tidak ada lagi yang bertanya. Kak Rama selesai menyampaikan informasi. Kami dipersilakan untuk pulang ke rumah masing-masing. Gue kembali ke kelas, karena Didi dan Boy masih menunggu.
‘Tama!’ suara seorang perempuan memanggil, gue menoleh ke belakang, ternyata Dara, ‘Kamu temennya Didi, kan?’
‘Iya. Kamu juga kan, temen sekelasnya.’
‘Ya, kamu sahabatnya, kan?’ gue mengangguk kikuk, ‘Boleh minta tolong? Tapi jangan bilang siapa-siapa, aku mau titip ini.’ sepucuk amplop merah jambu,
‘Apa, nih?’ tanya gue, ‘ada uangnya?’
‘Ini surat buat Didi.’ dia tersenyum,
‘Surat cinta?’ tanya gue sambil senyum menahan ketawa, Dara hanya diam, malu untuk mengakuinya, ‘Kenapa enggak kamu kasih langsung aja, simpan di mejannya pagi-pagi?’ Kan, romantis..’
‘Tiap hari kan, bangkunya pindah-pindah..’
Gue diam sejenak, ‘Iya, juga, ya..’
‘Bisa, kan?’ Gue mengiyakan. Dara berpesan kepada gue untuk tidak membacanya dan jangan kasih tahu Didi soal pengirimnya, Dara bilang, ‘Bilang aja, dari pengagum rahasianya.’ Gue mengangguk,
Dara berterima kasih lalu bilang, ‘Aku mau pulang.. Mau pulang bareng?’
‘Boy sama Didi nunggu di kelas, mau pulang bareng, lain kali ya, nanti sekalian aku kasih suratnya.’
Dara pamit pulang setelah menitipkan perasaan tertulisnya kepada gue untuk disampaikan kepada Didi. Gue mengerutkan dahi, sedetik kemudian mengedip, kemudian menggeleng, menarik napas panjang, menatap surat di tangan gue dalam-dalam.
Gue masih sedikit kaget ketika Dara menitip surat ini. Mau-enggak mau, gue harus menyampaikan surat ini. Karena sudah janji. Gue melangkahkan kaki menuju kelas. Ada surat yang harus disampaikan.
Di depan pintu kelas, gue bilang, ‘Di, ada titipan buat lo.’
Gue berpikir lagi. Mungkin lebih baik gue simpan dulu, dan memberikannya nanti di rumah Didi. Suasana hati gue masih kacau, belum saatnya surat ini sampai. Lebih baik nanti.
‘Apa?’ tanya dia,
‘Nanti deh, pas nginep.’ Sore itu, kami pulang sama-sama.