Rabu, 14 Februari 2018

Tentang Dica.

Secangkir kopi baru gue seduh.

Pagi ini gue menatap lagi layar laptop, melihat lagi tulisan lama, mengingat lagi semua yang enggak ingin gue lupa. Gue ingin istirahat sejenak dari belajar, ya meski pas belajar banyak istirahatnya. Sekarang, gue hanya ingin menulis, apapun tentang kami, dari sisa kenangan yang masih gue ingat, dan melibatkan sedikit perasaan.

Ada satu kalimat yang menganggu gue akhir-akhir ini, yaitu: ‘Semua orang punya kisah cinta SMA-nya masing-masing.’ Dan satu kalimat lagi dari keterangan foto instagram adik kelas gue sewaktu SMA, ‘Setiap orang pasti punya perjalanan menyembuhkan luka.’

Dan dari tulisan berikut yang gue temukan dari linimasa LINE, dari akun yang bernama Aldiii, judulnya:

Menjadi Dilan.

Minggu, 16 Juli 2017

Sebuah Tulisan Laki-Laki Biasa.

Setelah sekian puluh rencana yang gagal, akhirnya, keinginan gue untuk berenang, terwujud.

Hari Selasa kemarin, gue pergi berenang ke kolam Tirta Sanita yang ada di Cilimus bersama Ujang, Sapar, Inur, Rian, dan Ami. Hari itu, gue sedang libur kerja, Ujang menjemput gue untuk berangkat sama-sama ke Tirta Sanita. Hari itu juga merupakan pelepasan Ujang yang akan pergi ke Bandung untuk kuliah di UNPAD.

Minggu, 25 Juni 2017

Sebuah Tulisan: Satu Tahap dalam Hidup.

#NowPlaying The Scientist - Coldplay

Minggu-minggu awal ketika masuk SMA, Pak Ahmadi guru Bahasa Sunda, pernah bertanya kepada murid-murid kelas X MIPA 3. Hari itu belum belajar, masih tahap perkenalan. Pak Ahmadi bertanya Nama, asal sekolah, alamat, dan cita-cita. Ketika menyebutkan cita-cita, waktu itu gue menjawab, ingin jadi penulis.

Sederhana.

Minggu, 27 Maret 2016

[Cerpen] - Sampai Bertemu Lagi.

Tanpa gue hitung, detik baru saja berganti. Mungkin sudah sekitar dua puluh menit gue berbaring di lantai kamar sambil memandangi foto dia di layar handphone. Selembar kertas binder warna merah jambu dan pulpen tergeletak di samping gue. Bukan untuk menulis surat romantis tanpa nama, tapi sebuah surat perpisahan.

Gue belum menemukan kalimat yang pas. Mungkin alasan itu yang bisa gue katakan. Tapi sebenarnya, gue enggak sanggup untuk menulis surat perpisahan ini. Bahkan untuk menulis sebuah kalimat aja, tangan gue mendadak stroke stadium setengah. Mungkin, lebih baik, kalau gue enggak pergi ke sekolah hari ini.

Jumat, 11 September 2015

Notes. (lagi)

Kemarin kamis sekitar jam 10-an, Zidan ngajak ngider minta tanda tangan ke anak Ekskul Smanda Wirahma. Tapi, pikirannya berubah, mending nanti pulang. Kemudian gue ke bawah, karena kelas gue ada di lantai 3. Dan gue bertemu dia, kami saling bertegur sapa. Dia bilang, 'Kang, mau ikut smanda wirahma. Minta nomor hape-nya, ya?' Kemudian jantung gue... goyang oplosan.

Selasa, 18 Agustus 2015

Notes.

15 Agustus 2015 : Smanda jalan santai. Hampir setengah jalan, gue bertemu dia–orang yang lagi gue gebet. Ketika ada mobil kolbak parkir di gang sempit. Rambutnya terurai dengan wajah pucat dan bibirnya yang kering, tersenyum ke arah gue. Secara otomatis, gue juga senyum balik ke dia.